Mahasiswa ITPLN Raih Juara Nasional BRIN–FAO Lewat Inovasi AI untuk Prediksi Wabah Penyakit Hewan

Prestasi membanggakan kembali ditorehkan oleh mahasiswa Institut Teknologi PLN (ITPLN). Dionisius Aprisal Fenanlampir, mahasiswa Program Studi S1 Teknik Tenaga Listrik, berhasil meraih Juara 3 dalam ajang Sustainable Livestock Transformation Research and Innovation Competition for Young Scientists yang diselenggarakan oleh Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) bekerja sama dengan Food and Agriculture Organization of the United Nations (FAO).

Kompetisi tersebut merupakan bagian dari International Strategic Meeting on Scientific Pathways for Sustainable Livestock Industry Transformation 2026, sebuah forum internasional yang mempertemukan peneliti muda, akademisi, dan pakar untuk menghadirkan solusi inovatif bagi masa depan sektor peternakan yang berkelanjutan.

Dalam kompetisi tersebut, Dionisius memperkenalkan riset berbasis kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) yang dirancang untuk memprediksi penyebaran penyakit hewan antarprovinsi di Indonesia. Penelitian ini berangkat dari pengalaman Indonesia menghadapi wabah Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) pada tahun 2022, yang menjadi salah satu krisis peternakan terbesar dalam beberapa dekade terakhir.

Melalui pemanfaatan teknologi machine learning dan data publik yang tersedia, model yang dikembangkan mampu mengidentifikasi wilayah yang berpotensi terdampak wabah bahkan sebelum kasus pertama dilaporkan. Hasil pengujian menunjukkan kemampuan model dalam memprediksi provinsi yang akan terinfeksi hingga dua minggu lebih awal dibandingkan kemunculan kasus di lapangan.

Bagi Dionisius, penelitian ini bukan hanya tentang PMK. Ia merancang sebuah kerangka kerja yang dapat diterapkan pada berbagai penyakit hewan lainnya, seperti Flu Burung H5N1, Lumpy Skin Disease, hingga African Swine Fever. Menurutnya, tujuan utama dari penelitian tersebut adalah membangun sistem surveilans kesehatan hewan berbasis AI yang dapat mendukung pengambilan keputusan secara lebih cepat dan akurat.

Ketertarikan Dionisius terhadap isu kesehatan hewan ternyata lahir dari pengalaman pribadi. Pada tahun 2025, keluarganya mengalami kerugian besar setelah seluruh ternak babi yang mereka pelihara mati akibat wabah African Swine Fever. Pengalaman tersebut menjadi titik awal yang mendorongnya mencari solusi berbasis teknologi agar peternak memiliki kesempatan untuk bersiap sebelum wabah datang.

Salah satu keunggulan penelitian ini adalah penggunaan data publik yang membuat sistem lebih mudah direplikasi dan dikembangkan. Dengan pendekatan tersebut, model dapat disesuaikan untuk berbagai jenis penyakit tanpa harus bergantung sepenuhnya pada data surveilans yang terbatas.

Selain membawa pulang penghargaan nasional, Dionisius juga memperoleh pengalaman berharga melalui diskusi langsung dengan para juri dan pakar internasional dari BRIN maupun FAO. Berbagai masukan yang diperoleh semakin memperkuat keyakinannya bahwa kolaborasi lintas disiplin ilmu memiliki peran penting dalam menjawab tantangan global.

Keberhasilan ini menjadi bukti bahwa inovasi dapat lahir dari berbagai latar belakang keilmuan. Meskipun berasal dari bidang teknik tenaga listrik, Dionisius mampu menunjukkan bahwa teknologi kecerdasan buatan dapat memberikan kontribusi nyata bagi sektor peternakan dan ketahanan pangan nasional.

Ke depan, ia berencana mengembangkan penelitian ini melalui validasi model pada tingkat kabupaten, memperluas cakupan prediksi ke berbagai penyakit hewan lainnya, serta membangun platform data terbuka yang diberi nama Livestock Disease Data Commons. Platform tersebut diharapkan dapat menjadi ruang kolaborasi bagi peneliti, pemerintah, dan pemangku kepentingan lainnya dalam memperkuat sistem peringatan dini penyakit hewan di Indonesia.

Prestasi yang diraih Dionisius tidak hanya menjadi kebanggaan bagi ITPLN, tetapi juga menunjukkan bahwa mahasiswa Indonesia memiliki kemampuan untuk menghadirkan solusi inovatif yang berdampak nyata bagi masyarakat. Melalui riset dan teknologi, harapan untuk menciptakan sistem peternakan yang lebih tangguh, berkelanjutan, dan siap menghadapi ancaman wabah semakin terbuka lebar.